Kamu ada diartikel
artikel
YLSA: Menggunakan Teknologi Untuk Kemuliaan Allah
Tahun 1997, Thomas L. Friedman sedang sibuk mempersiapkan bukunya tentang globalisasi yang kemudian menjadi best seller "The Lexus and the Olive Tree" (terbit tahun 1999). Di bukunya yang terbaru, "The World is Flat", ia mengakui bahwa di akhir tahun 1990-an itu, ia sama sekali belum berpikir serius tentang dunia yang akan tidak bulat lagi akibat teknologi internet.
Tapi Allah Tritunggal tahu perkembangan jaman. Tahun 1997, Ia menggerakkan sekelompok orang yang bergabung di bawah "Yayasan Lembaga SABDA" (YLSA) di kota Solo -- Jawa Tengah, untuk memulai pelayanan berbasis internet. Walaupun lambat, namun pasti, YLSA berhasil mengubah sikap orang Kristen Indonesia yang selalu ketinggalan jaman untuk memanfaatkan teknologi internet menjadi alat bagi kerajaan Tuhan.
Untuk mengetahui bagaimana Tuhan memimpin pelayanan internet terbesar di Indonesia ini, GetLife berbincang-bincang dengan Yulia Oeniyati, pimpinan YLSA:
GetLife: Bagaimana YLSA memulai pelayanan berbasis internet ini?
Yulia: Perkembangan teknologi informasi terjadi dengan luar biasa cepat. Ketika internet masuk ke pasaran Indonesia tahun 1997, kami melihat kesempatan emas untuk melayani Tuhan di dunia internet. Jika sekarang seluruh dunia terhubung melalui media internet dan dunia sekuler memanfaatkannya untuk mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin, mengapa orang Kristen justru bersifat pasif? Bahkan lebih parah lagi orang sekularisasi. Mengapa tidak menggunakannya untuk kemajuan Kerajaan Allah? Mengapa tidak menjadikan dunia internet sebagai ladang misi yang perlu dijangkau oleh Injil? Dari sinilah visi Tuhan lahir untuk YLSA.
GetLife: Apa saja produk-produk pelayanan YLSA?
Yulia: Ada beberapa, pertama, situs-situs YLSA yang berisi sumber bahan-bahan kekristenan http://katalog.sabda.org. Kami bersyukur karena sejauh ini ada lebih dari 25 situs YLSA yang terus diupdate secara rutin, bahkan setiap tahun YLSA bisa meluncurkan situs-situs baru.
Kedua, situs-situs komunitas YLSA, salah satunya adalah situs SABDA Space yang telah menjadi situs komunitas blogger Kristen terbesar Indonesia. http://www.sabdaspace.org. Situs komunitas kristen YLSA lain yang sedang dibangun adalah situs In-Christ.Net singkatan dari Indonesian Christian Network of Networks http://www.in-christ.net.
Ketiga, publikasi-publikasi YLSA yang terbit secara rutin dan dibagikan dengan gratis http://www.sabda.org/publikasi. Sampai akhir tahun 2007, YLSA telah menerbitkan 18 publikasi elektronik Kristen dengan total jumlah pelanggan hampir 70 ribu pelanggan.
Keempat, YLSA juga membuka sekolah teologia online (non-formal) gratis untuk kaum awam, yang bernama PESTA, singkatan dari Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam. Setiap tahun secara rutin kami membuka 7 sampai 8 kelas dengan jumlah peserta 20 orang di masing-masing kelas. Pelayanan ini telah membantu banyak kaum awam untuk belajar teologia dan membekali mereka untuk menjadi berkat di market place. http://www.pesta.org.
Kelima, adalah produk utama pelayanan YLSA yaitu CD SABDA (=Software Alkitab, Biblika, Dan Alat-alat) http://www.sabda.net. SABDA yang terakhir kami produksi adalah versi 3.0. Mohon dukungan Anda karena kami sedang mengerjakan SABDA versi 4.0 yang diharapkan bisa diluncurkan dalam waktu dekat dan didistribusikan secara gratis kepada masyarakat Kristen secara lebih luas lagi.
Walaupun masih banyak produk-produk pelayanan YLSA yang lain, 5 produk di atas paling tidak dianggap mewakili apa yang YLSA lakukan.
Getlife: Wow... luar biasa! Keahlian apa yang dibutuhkan untuk memulai pelayanan berbasis internet?
Yulia: Pelayanan berbasis internet sangat dinamis dan cepat. Ada dua macam keahlian yang dibutuhkan, pertama: kemampuan praktis dan inovatif untuk menjalin, mengelola, dan me-manage semua hubungan sosial yang terjadi di dunia riil maupun maya, juga termasuk mengelola urusan administrasi. Kedua: kemampuan teknis dan visionaris sehingga dapat melakukan terobosan-terobosan teknologi mutakir yang tepat guna sesuai dengan kebutuhan perkembangan pelayanan yang ada. Dua keahlian ini akan memberikan keseimbangan yang dibutuhkan dan kemungkinan besar tidak akan didapat dalam diri satu orang tapi dalam sebuah tim.
GetLife: Betul-betul butuh kerja tim yang kuat yach?
Yulia: Ya, jelas! Dan jika ada yang terbeban dan ingin belajar membangun pelayanan internet, silakan datang ke YLSA karena YLSA selalu membuka lowongan untuk progammer dan editor/penulis yang ingin melayani di pelayanan internet http://www.ylsa.org/lowongan.
GetLife: Bagaimana mengukur kesuksesan pelayanan ini?
Yulia: Secara manusiawi, kesuksesan pelayanan sering ikut-ikutan diukur dengan parameter-parameter bisnis. Misalnya, berapa jumlah anggota gerejanya/yang datang ke KKR/seminar, berapa persembahan yang berhasil dikumpulkan, berapa banyak cabang yang dibuka, berapa besar gedung gerejanya/kantornya, dll. Saya kira pelayanan seharusnya tidak diukur hanya dari yang materi (kelihatan) saja. Ketaatan untuk menjalankan apa yang Tuhan kehendaki (visi) adalah ukuran pertama yang harus dipakai. "Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat" (Amsal 29:18)
Kesuksesan pelayanan juga tidak diukur dari besarnya return on investment tapi dari return on effort. Pelayanan seharusnya tidak untuk mencari keuntungan finansiil seperti bisnis, tapi untuk memberi dampak bagi Kerajaan Allah. Ketika memulai pelayanan YLSA, kami tahu bahwa kami harus membayar harganya dan kami tidak menghitung-hitung apakah kami akan mendapatkan return on investment. Karena itu semua pelayanan kami gratis. Kami tidak ingin terjebak pada mengkomersialkan pelayanan (menjadikan pelayanan sebagai cara untuk mencari keuntungan finansiil atau mengembalikan modal). Karena itu, kami berkomitmen untuk bergantung sepenuhnya pada Tuhan dengan menempatkan diri di tempat yang paling strategis dan memberikan effort yang terbaik. Puji Tuhan Dia selalu menolong kami untuk bisa tetap melakukan pelayanan secara murni demi pelayanan.
GetLife: Jadi, apakah pelayanan-pelayanan YLSA dianggap sukses?
Yulia: Sejauh YLSA tidak menyimpang atau mundur dari visi dan jalan Tuhan, kami menganggap pelayanan kami sukses. Tapi kami juga mengukur kesuksesan pelayanan kami minimal dari dua hal:
Pertama dari dampak yang dihasilkan; berapa banyak dari mereka yang kami layani mendapat berkat dari apa yang kami lakukan, berapa banyak dari mereka mendapatkan kemudahan untuk belajar Firman Tuhan dengan bertanggung jawab, berapa banyak dari mereka yang mendapat bekal pelayanan melalui bahan-bahan yang kami sediakan, berapa banyak dari mereka yang dibangunkan dan disemangati pelayanannya, dst. Kedua, adalah dari produk pelayanan yang dihasilkan. Karena itu, kami mencoba untuk terus mengevaluasi diri, dengan mencatat dan melaporkan secara ketat perkembangan-perkembangan pelayanan yang kami capai kepada para sahabat dan pendukung YLSA (http://www.ylsa.org/berita_ylsa).
GetLife: Bagaimana mengukur kesuksesan sebuah situs?
Yulia: Biasanya orang mengukurnya dengan menghitung jumlah hit yang dicapai selama satu bulan. Tapi hal itu sebenarnya tidak tepat, karena banyaknya jumlah hit tidak mencerminkan banyaknya jumlah halaman yang dibaca/diambil, atau yang memberi dampak bagi para pengunjungnya. Kalau dilihat dari total hit, situs-situs yang tergabung dalam SABDA.org rata-rata per bulan mencapai total hit lebih dari 6 juta. Secara angka tentu sangat menakjubkan. Tapi yang menentukan kesuksesan situs-situs SABDA.org lebih dari sekedar jumlah hit, tapi dari berapa besar dampak yang disebabkan oleh keberadaan situs-situs tersebut. Puji Tuhan, dari buku tamu dan surat-surat tanggapan pengunjung kami melihat situs-situs SABDA.org telah menjadi berkat bagi banyak orang.
GetLife: Ada banyak lembaga yang mengeluh karena situs mereka mati, alias sepi pengunjung. Apa yang harus dilakukan?
Yulia: Silakan berkunjung ke alamat berikut untuk mendapatkan tips-tips: http://www.sabda.org/publikasi/misi/2007/36/ [juga edisi 37 dan 38].
GetLife: Apakah banyaknya jumlah pelanggan menunjukkan kesukesan pelayanan ini?
Tidak selalu. Ada banyak pelanggan yang berlangganan publikasi YLSA hanya untuk dikoleksi. Sebagian besar memiliki sikap hanya sebagai penonton atau pengguna. Jika mereka menggunakan bahan-bahan tersebut untuk memperkaya pelayanan mereka, maka pelayanan kami telah menjadi berkat. Tapi pelayanan ini akan dianggap sangat sukses jika kami bisa mendorong para pembaca untuk tidak hanya menjadi consumer/user saja tapi suatu ketika bisa meningkat menjadi producer/distributor/learner-teacher atau content creator. Kami berharap pelayanan kami bisa memperlengkapi para pembaca untuk menjadi berkat bagi orang lain lagi -- inilah sukses. Untuk mencapai taraf ini memang tidak mudah, karena itu kami mencoba menciptakan lebih banyak kesempatan dengan menyediakan fasilitas-fasilitas interaktif di situs-situs sumber bahan agar setiap anggota bisa berpartisipasi dengan mengirimkan artikel, komentar, blog, dll.
GetLife: Apa tantangan utama dari pelayanan berbasis internet semacam ini?
Pembunuh utama pelayanan internet adalah eksklusivisme dan single fighter. Tubuh Kristus secara untuh (Gereja yang Am) perlu bekerja bersama-sama bukan membangun pulau-pulau yang berdiri sendiri-sendiri. YLSA, sebagai pionir dalam bidang pelayanan ini, mencoba membantu dengan membentuk sarana jaringan bagi pelayanan-pelayanan yang ada. Saat ini YLSA telah membentuk sebuah situs komunitas Kristen yang diharapkan dapat memfasilitasi kebutuhan ini. Situs komunitas ini adalah "in-Christ.Net" singkatan dari Indonesian Christian Network of Networks http://www.in-christ.net. Semua komunitas Kristen diundang untuk bergabung dan menggunakan fasilitas yang disediakan secara gratis, misalnya blog, forum, wiki, direktori Kristen dll. Melalui wadah ini diharapkan setiap pelayanan bisa saling berbagi dengan tujuan untuk "saling memperlengkapi" sehingga tidak perlu merasa sendiri lagi dan bisa saling membantu.
Kontak YLSA:
Email: ylsa@sabda.org
Phone: (0271)-719198
Alamat: Kotak Pos 25/SLONS, Surakarta 57135
No. Rek: BCA Pasar Legi Solo, 079.0266.579 a/n Yulia Oeniyati
Kesimpulan:
Penduduk dunia, termasuk Indonesia sedang mulai menjalani era Globalization 3.0 di "dunia yang datar" karena orang-orang saling terhubung lewat internet. Akibatnya, ekonomi pasar akan mulai bergeser karena dunia berubah dari broadcast ke broadband. Di Indonesia, hal ini masih berada di tahap awal, tapi perlahan-lahan kita akan menuju ke sana, dimotori oleh mereka yang saat ini masih remaja. Di dunia semacam ini, kemampuan individu sangat menentukan kemungkinan untuk bisa survive.
Jika tidak waspada, orang Kristen dapat terjebak dalam individualisme kronis. Sentuhan manusiawi (personal touch) jadi barang langka karena orang terlalu individualis. Dan orang jadi sulit bertumbuh karena terlalu malas bertemu orang lain secara langsung untuk berkomunitas. Padahal, besi menajamkan besi dan manusia menajamkan manusia. Di sisi lain, dunia semacam ini membuka kesempatan untuk melayani Tuhan secara luas, jika dapat menggunakan teknologi internet dengan efektif. (GE)
Diambil dari:
Judul artikel: YLSA: Menggunakan Teknologi untuk Kemuliaan Allah
Judul majalah: GetLife edisi 36
Penulis: GE
Penerbit: GetmeDia (Yayasan Pelita Indonesia), Bandung, Jawa Barat
Halaman: 46--48
YLSA Berulang Tahun
Judul yang diberikan di atas sebenarnya agak mengganjal, karena tidak ada yang ingat kapan tepatnya Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) berdiri. Karena itu, ulang tahunnya pun tidak pernah diperingati. Namun, 2004 menjadi tahun yang istimewa bagi YLSA karena tepatnya 1 Oktober 2004, akhirnya YLSA memiliki sebuah kantor yang memadai untuk kegiatan pelayanan YLSA. Ini merupakan hadiah istimewa karena berdirinya kantor YLSA adalah jawaban Tuhan atas doa yang telah kami panjatkan cukup lama. Rasa syukur yang sangat dalam atas pemberian Tuhan itu mendorong kami untuk mengadakan kebaktian ucapan syukur sebagai peresmian atas penggunaan kantor YLSA. Sejak saat itulah, kami bersepakat menetapkan 1 Oktober sebagai hari perayaan ulang tahun YLSA. Nah, begitulah riwayat lahirnya hari ulang tahun YLSA. (Mudah-mudahan penjelasan ini dapat menjawab ganjalan dari judul di atas.)





